Persatuan dalam balutan karya Ibert, Brahms dan Singgih Sanjaya

Jakarta (ANTARA News) – Jakarta City Philharmonic kembali menggelar konser untuk edisi yang ke-16 kalinya, di Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu. Dalam konsernya kali ini, kelompok orkestra yang terbentuk pada November 2016 itu mengusung tajuk “Persatuan”. 

Tema tersebut diangkat sebagai ungkapan rasa syukur dan bentuk terima kasih Jakarta City Philharmonic kepada rakyat Indonesia yang tetap bersatu dan memegang teguh Bhinneka Tunggal Ika, di tengah perbedaan pandangan politik, kesukuan dan juga agama.

“Jakarta City Philharmonic ini mendedikasikan konsernya untuk negara tercinta Indonesia, agar dapat memperkaya budaya bangsa yang bermartabat dan berbudi luhur,” ujar salah satu Komisaris Jakarta City Philharmonic, Anto Hoed.

Dalam konser tersebut ditampilkan karya dari tiga komposer kenamaan, yakni Jacques Ibert dengan “Konserto Seruling”, Johannes Brahms dengan “Simfoni No.4 dalam E minor, Op. 98” dan Singgih Sanjaya dengan “Nagara Krtagama”.

Baca juga: Hidung Belang dalam alunan orkestra

Acara yang berlangsung selama sekitar dua jam itu dibuka dengan alunan lagu Indonesia Raya. Tak lama setelahnya, para pemain orkestra Jakarta City Philharmonic dengan pengaba Budi Utomo Prabowo mulai memainkan “Nagara Krtagama” karya Singgih Sanjaya.

“Nagara Krtagama” merupakan karya sastra yang ditulis oleh pujangga Mpu Prapanca pada abad 13. Karya ini mengisahkan tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk berkeliling pulau Jawa. Berbagai peristiwa yang terjadi selama perjalanan Hayam Wuruk itu dituangkan dalam alunan musik oleh Singgih.

Salah satu contohnya ketika Hayam Wuruk selesai melakukan pertapaan. Kala itu diceritakan bahwa beberapa gadis yang juga ikut bertapa jatuh cinta terhadap sosok Hayam Wuruk.  Untuk menggambarkan suasana itu, Singgih menyisipkan lagu bernuansa romantis dengan irama syahdu.

Baca juga: Konduktor perantau Indonesia tampil mempesona di Bulgaria

Setelah membawakan “Nagara Krtagama”, kelompok orkestra Jakarta City Philharmonic bersama pengaba Budi Utomo Prabowo melanjutkan penampilannya dengan mengajak flutis senior Marini Wisdyastari berkolaborasi memainkan “Konserto Seruling” karya Jacques Ibert. 

Karya Ibert yang satu ini disebut sebagai salah satu lagu yang paling sulit dimainkan.

“Pemain flute awal yang ditunjuk Jacques Ibert sampai menolak karena karyanya ini terlalu susah dimainkan. Lagu ini jadi salah satu lagu yang paling menantang untuk para pemain flute,” ujar trompetis Eric Awuy.

Meskipun dianggap sebagai karya yang sulit “ditaklukkan”, tetapi nyatanya Marini mampu memainkan lagu tersebut dengan sangat apik. Kelincahan jari jemarinya dalam merangkai nada, ditambah kemampuannya dalam mengatur pernapasan saat meniup flute membuat penampilan Marini mampu memukau ratusan penonton yang hadir.

Lagu pamungkas yang dibawakan oleh Jakarta City Philharmonic dengan pengaba Budi Utomo Prabowo adalah Simfoni No.4 dalam E minor, Op.98 karya Johannes Brahms. Lagu bernuansa grande itu dimainkan sekitar 30 menit dan berhasil membuat sejumlah penonton melakukan standing applause di akhir pertunjukan.

Baca juga: Addie MS bareng Philharmonic Orchestra di album baru Memes

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018